Books

Request Friendship
Send Request Cancel

:. Hanara

:. Hanara

:: Just an Ordinary Girl :: Coming from Ranau, a tourism resort in South Sumatra, Indonesia :: 3rd Year University Student of Islamic Law and Jurisprudence, Al-Azhar, Cairo :: Still Striving to Pursue her Endless Dream :: On The Way to Find her Own Maturity :: Still Growing Unsatisfied with her Surround :: Love to Build a Healthy Relationship,... more »
  • Nasr City, Ca, Egypt
  • member since December 13 2007

Reviews

  • Sort by:
 
  • Angels & Demons
    • Rated 0 stars

    Harusnya aku mengikuti mata kuliah Ekonomi Politik dan mempersiapkannya sejak Subuh tadi. Tapi aku tidak. Instingku membimbingku untuk memilih petualangan lain. Otak konspirasiku sudah kelewat tersiksa dengan penasaran besarku atas kelanjutan aksi Dan Brown di Angels and Demons-nya. Saatnya menuntaskan semua. Sebelum konsentrasiku untuk ujian semakin dirusaknya.

    Petualanganku untuk menyelesaikan "siksaan" Dan Brown kali ini terasa lebih berat ketimbang "siksaan-siksaan"nya yang lain. Bagaimana tidak? Dengan cukup membaca saja aku jelas akan merasa tegang dan kelelahan mengarungi plot raksasanya yang selalu hadir zig-zag dan mengejutkan. Tapi tadi, perjuanganku memang berlipat ganda, karena selain sibuk berkonspirasi, otakku juga ternyata sibuk menetukan catatan ber-angle apa yang paling mewakili perasaanku setelah nanti rampung membacanya.

    Awalnya sempat terpikir untuk menghadirkan objektivitas Dan Brown saat bersuara bagaimana layaknya agama dan ilmu pengetahuan berdialektika sebagai angle catatanku. Lalu berubah ide saat aku tergugu menemukan keberadaan Sang Camerlengo yang ternyata merupakan aktor inti yang sama sekali tak pernah kuduga, aku tiba-tiba lebih menginginkan semangat "mistik" sang Camerlengo inilah yang menjadi angle-nya.

    Rupanya tidak demikian, karena aku juga sempat murka saat Dan Brown secara "samar" menunjukkan cemoohnya terhadap kabilah yang menjadi icon agamaku. Arab yang muslim! Walau cemooh itu hanya separagraf, kurasakan sakitku melebihi sakitnya seorang Kristian taat saat membaca aksi Dan Brown di The Da Vinci Code! Saat itu, hujatan atas Dan Brown-lah yang rasanya harus kujadikan angle!

    Hanya sayang, Dan Brown kembali berhasil menarik simpatiku. Murkaku terhadapnya mulai padam. Otak usilku kembali menemukan angle baru yang lebih menarik. Aku justeru merasa terkuatkan untuk menyuarakan jengahku terhadap mereka-mereka yang terlalu memuja akal saat membaca penampilan Dan Brown di akhir-akhir. Karena harus disadari, kejeniusan memang kerap bertumbal. Anarkisme bahkan Iman!

    Tapi lagi-lagi, aku harus mengakui kalau itu bukan angle yang tepat. Karena kutahu, selamanya hanya ada tiga kata yang bisa mengekspresikan perasaanku dengan jujur sekaligus menjadi angle catatanku. Tiga kata saja: AKU KALAH LAGI! Ya! Aku lagi-lagi memang harus berlutut pada Dan Brown! Alurnya yang meliuk-liuk benar-benar menyiksaku, humanismenya yang kental terpancar di setiap serpihan ide-idenya, kegagahannya benar-benar tampak saat membantingku dengan ending yang sama sekali tak pernah kutebak. Semua itu, apalagi kalau bukan proklamirku kalau Dan Brown memang benar-benar pencerita jenius. Jenius dan liar!

    :. Hanara wrote this review Thursday, December 13 2007. ( reply | permalink )

Missing a review?